Saat teduh: Tuhan Pasti Menolong

saat teduh Januari 2020
saat teduh Januari 2020

Saat Teduh Kristen hari ini: 04 Januari 2020.

Bacaan Alkitab

(5) Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk.

(6) Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya.

(7) Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila!

(8) TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.”

(9) Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”

(10) Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?”

(11) Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.

(12) Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.”

(13) Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.

(14) Dengan lelah sampailah raja dan seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia ke Yordan, lalu mereka beristirahat di sana.

II Samuel 16 : 5 – 14

Renungan

Bagaimana perasaan saudara ketika dalam menjabat posisi yang tinggi, tetapi ada orang lain yang posisinya lebih rendah berani menghujat atau mengutuk saudara? Bagaimana saudara bereaksi atas hal itu ?Dalam perikop ini, kita membaca tentang kisah  Raja Daud yang direndahkan oleh Simei. Ini terjadi ketika ia melarikan diri dari putranya Absalom yang ingin mengkudeta dan membunuh Daud.

Tidak seperti Daud, kadang- kadang kita ingin membungkam pengkritik, menuntut keadilan dan membela diri. Tetapi ketika kita semakin bertumbuh dalam kesadaran akan perlindungan  kasih Allah, kita tidak akan terlalu memperdulikan pendapat orang lain mengenai diri kita. Sebaliknya, kita semakin ingin mempercayakan diri kita kepada Bapa. Seperti Daud, kita dapat berkata kepada si pengeritik,” Biarkanlah dia dan biarkanlah ia mengutuk ( II Samuel 16 : 11 ).

Ini merupakan kepatuhan yang rendah hati kepada kehendak Allah.Kita juga mungkin dapat meminta lawan atau orang yang memusuhi kita menjelaskan tuduhan mereka. Pada ayat 12 , Daud menunjukkan sikap menunggu Allah dengan sabar hingga Allah memberi keadilan bagi kita.Mari kita memfokuskan perhatian kepada Dia yang mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Alangkah baiknya bila kita dapat percaya bahwa apa yang Allah ijinkan terjadi dalam hidup, semua demi kebaikan kita. Sekali pun kita mungkin harus menghadapi “kutukan Simei”, hati kita hancur dan berdarah- darah , air mata mengucur.Mari kita belajar dari Raja Daud.

Kita aman dalam genggaman Allah, tak peduli apa pun komentar orang lain tentang diri saudara. Allah melihat penderitaan saudara, dan pada waktunya Dia akan membalas kutuk  dan kesengsaraan yang saudara terima. Jadi percayalah dan tetap tinggal dalam kasihNya. Saudara dapat bertahan dalam ketidaksempunaan hidup ini karena menyadari bahwa Allah yang akan menyempurnakan segalanya. Tapi kita juga perlu ingat, bahwa ada orang lain yang melakukan itu, bisa jadi karena kesalahan yang saudara lakukan. Jika demikian, refleksikan dan koreksi diri saudara.