Renungan.org
Home - Artikel Kristen - Kemenangan di Dalam Kristus

Kemenangan di Dalam Kristus

Kemenangan di Dalam Kristus

Kemenangan di dalam Kristus adalah hal yang diinginkan oleh banyak orang Kristen. Hal tersebut adalah janji yang telah dijanjikan oleh Kristus sendiri kepada kita. Namun sering beberapa pertanyaan muncul di pikiran, yaitu pertanyaan seperti: “Kenapa kita tidak melihat kemenangan lagi di dalam Kristus?” Atau “Kenapa saya tidak memiliki kemenangan lagi di dalam Kristus?” Seorang Teolog bernama  JP Moreland membuat pernyataan yang tidak mengenakkan: “Ada kemungkinan besar bahwa 95 persen orang-orang Kristen di setiap generasi memiliki konsep fundamental / dasar Kekristenan yang cacat.”? Sebagai contoh, jika kita hidup di zaman Perang Salib, kita akan melihat bahwa sebagian besar “orang Kristen yang baik” yakin bahwa mereka bisa mendapatkan tiket masuk ke surga dengan pergi berperang di Tanah Suci. Hal tersebut menunjukkan bahwa kadang-kadang sulit untuk membedakan perkataan Tuhan yang benar dengan apa yang kita asumsikan benar hanya karena semua orang di sekitar kita meyakini itu.

Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, yaitu Iman kita.

Pada suatu waktu, saya berasumsi bahwa “kemenangan dalam Kristus”- atau menjalani hidup Kristen yang berkemenangan di tengah-tengah dunia yang penuh dosa dan kacau berarti memiliki kemenangan dalam hidup saya. Definisi tersebut adalah definisi yang saya buat sendiri, dan karena budaya di sekitar saya, saya berpikir bahwa memiliki kemenangan di dalam Kristus berarti bahwa saya harus menjadi semakin mandiri. Bagi saya, semangat independen ini telah mempertahankan saya di dalam kondisi kerohanian yang stasis. Gaya hidup tersebut tidak akan membuat pertumbuhan dalam kerohanian saya.

Dalam 1 Yohanes 5:4 dikatakan bahwa semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. … kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Jadi saya percaya bahwa untuk menjadi pemenang, saya harus bertumbuh dalam kasih saya dan taat kepada Kristus. Saya ingin menjadi seperti Yesus, dan Yesus bukanlah seseorang yang melakukan apa pun dengan dorongan keinginan-Nya sendiri. Dalam Yohanes 8:28, Yesus berkata,

“Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.”

Yesus hidup dalam ketergantungan penuh kepada Allah. Ia memilih untuk hidup ketergantungan dengan kebaikan orang lain, dan Dia bergantung pada para murid untuk menyebarkan ajaran-Nya setelah Ia pergi. Hal-hal tersebut menunjukkan banyak ketergantungan. Dari renungan harian Kristen, saya menyadari saya perlu semakin tergantung pada Allah, dan apa yang saya pelajari adalah menunjukkan bahwa saya juga tergantung pada orang-orang Kristen di sekitar saya juga. Jika saya hidup bergantung atau berkaitan dengan orang-orang Kristen yang lain dan mereka juga tahu kelemahan dan kegagalan saya, usaha dan harapan saya, dan memahami mereka juga, menyatakan bahwa saya mengikuti teladan Yesus dan Dia akan dihormati. Ketika saya melakukan hal-hal tersebut, saya dapat bertumbuh. Teman-teman Kristen saya mengatakan hal-hal yang tidak akan datang dari diri saya sendiri. Beberapa dari mereka kadang mengecewakan juga. Tapi kadang-kadang jiwa saya terlatih dan segar dengan cara tersebut, yang tidak akan saya dapatkan dalam hidup sendiri tanpa ketergantungan dengan orang lain.

Rumus Untuk Mengatasi Kegagalan

Apa itu kegagalan? Apakah kegagalan permanen? Apakah ada kesempatan kedua? Lengkapi kalimat berikut dengan melingkari frase yang tepat yang ada di bawah ” Orang gagal ketika …”

  1. Dia membuat kesalahan;
  2. Dia berhenti;
  3. Seseorang berpendapat bahwa dia gagal.

Berikut adalah rumus-rumus untuk mengatasi kegagalan:

  1. Tinjau ulang – Kegagalan dapat dijadikan sebagai guru, bukan titik dimana seseorang harus berhenti berusaha. Kegagalan adalah jalan mundur sementara, tapi bukanlah jalan buntu. Seorang pemenang adalah seseorang yang mengakui kesalahannya, cukup pintar untuk mendapatkan keuntungan dari kesalahan-kesalahan tersebut dan cukup kuat untuk memperbaikinya.
  2. Mengontrol diri – Mungkin masalah pribadi anda menyebabkan kegagalan dalam diri anda. Jika demikian, mulailah bekerja dengan disiplin. Jika diri anda adalah masalahnya, tempatkanlah diri anda di bawah kontrol anda. Lord Nelson, pahlawan angkatan laut Inggris yang terkenal, menderita mabuk laut seumur hidupnya. Namun pria yang telah menghancurkan armada Napoleon tersebut tidak membiarkan penyakit tersebut mengganggu karirnya.
  3. Menyesuaikan diri – Seorang ahli bedah plastik terkemuka menceritakan tentang seorang anak yang kehilangan pergelangan tangan. Ketika ia bertanya tentang pemuda cacat tersebut, anak itu menjawab, “Aku tidak memiliki cacat. Saya hanya tidak memiliki tangan kanan “Dokter bedah tersebut kemudian mengetahui bahwa anak tersebut adalah salah satu pencetak gol andalan di tim sepak bola SMA-nya.
  4. Lakukan kembali – Kesalahan menandai jalan menuju sukses. Seseorang yang tidak membuat kesalahan justru tidak membuat sebuah kemajuan. Pastikan anda pernah atau akan menemui saat-saat dimana anda melakukan kesalahan yang wajar. Karena, anda tidak bisa belajar tanpa kesalahan-kesalahan. Sebagian orang tidak dapat berdiri kembali karena kegagalan. Tetapi, justru orang-orang terbaik lebih banyak mengalami kegagalan daripada sukses.

Semoga kegagalan tidak akan membuat anda berhenti, tetapi kegagalan tersebut dapat memotivasi anda untuk melakukan usaha anda kembali dengan hasil yang lebih baik. Tuhan Yesus memberkati.

Add comment