Bagaimana Saat Teduh yang baik

Saat teduh yang baik
Saat teduh yang baik

Apa Saat Teduh?

Saat Teduh adalah disiplin ibadah pribadi secara teratur, melalui mana seorang Kristen memelihara hubungan rohani dalam anugerah penyelamatan Yesus Kristus, melalui Alkitab dan doa, untuk makin mengenal Allah, bertumbuh dalam segala kebenaran dan kehendak Allah untuknya.

Dalam definisi di atas kita temui beberapa unsur penting yang nanti akan diuraikan lebih rinci lagi dalam bagian berikut. Untuk awalnya kini mari kita lihat unsur penting apa saja harus ada dalam saat teduh.

  1. Ibadah pribadi.
    Saat teduh menekankan sisi ibadah secara pribadi, bukan kelompok. Ibadah pribadi adalah hak dan kewajiban yang Tuhan Allah mungkinkan bagi orang Kristen sebagai akibat dari ia menerima semua akibat anugerah penyelamatan Kristus dalam bentuk dibenarkan, diampuni, diperdamaikan, diangkat jadi anak dari Allah, dst. Jadi saat teduh adalah ungkapan dari penghayatan iman hubungan anak-Bapa dengan Allah.
  2. Secara teratur.
    Seperti halnya setiap hubungan selalu memerlukan sarana komunikasi yang teratur, saat teduh pun harus merupakan suatu disiplin yang kita pupuk secara teratur.
  3. Hubungan rohani.
    Saat teduh jangan dilakukan menjadi sesuatu yang mekanistis, ritualistis dan legalistis. Saat teduh adalah hubungan rohani. Bahwa kita membiasakan diri menjadikannya suatu disiplin teratur dengan pola tertentu, harus dilihat sebagai sarana bukan hakikat. Hakikat saat teduh adalah hubungan rohani. Maka semangat orang bersaat teduh adalah menyadari anugerah Allah, mensyukuri itu dan menghasrati perjumpaan dengan Allah, bukan dengan paksa.
  4. Anugerah penyelamatan Yesus Kristus.
    Seperti halnya kita tidak dapat selamat tanpa anugerah Kristus, kita pun tidak dapat bertumbuh dalam hubungan rohani lepas dari anugerah-Nya. Kesadaran menggantungkan diri pada anugerah Allah dalam bentuk mengimani pertolongan Roh Kudus ini, meluputkan kita dari menjalani saat teduh dengan tujuan dan cara yang salah.
  5. Alkitab dan doa.
    Allah berbicara dan bertindak – keduanya dicatat dalam Alkitab. Alkitab adalah media melalui mana Allah berbicara kepada kita mengungkapkan kehendak, rencana, isi hati-Nya. Karena itu dengan membaca Alkitab sebenarnya kita bukan sekadar bertindak menganalisis, menggali, merenungkan, tetapi seiring dengan itu kita perlu peka bahwa Allah membaca, bicara, bertanya, mengarahkan kita melalui Alkitab. Doa adalah ungkapan komunikasi ke pihak Allah. Komunikasi yang benar adalah yang terus menerus timbal balik. Kita tidak boleh membuat doa menjadi komunikasi sepihak dari kita mencurahkan segala pergumulan hidup kita tanpa peka dan menyesuaikannya dengan suara Allah yang kita dengar melalui perenungan Alkitab.
  6. Mengenal Allah, bertumbuh dalam segala kebenaran dan kehendak Allah untuk kita. Inilah tujuan saat teduh yang baik dan benar. Di dalamnya terkandung dua kepentingan yang harus serasi. Pertama, mengenal Allah dan kebenaran-Nya. Tujuan ini adalah menjadikan Allah dan Alkitab menjadi pusat perhatian kita dalam bersaat teduh. Kita harus siap memahami dan menjalani seluruh kebenaran Allah, jadi saat teduh kita perlu memiliki pola yang memungkinkan kita maju menelusuri kebenaran Allah di dalamnya secara bertahap. Kedua, kita yang bersaat teduh menerima dampak dari saat teduh yaitu mengenal Allah dan bertumbuh.

Mengapa bersaat teduh?

  1. Alasan dari pihak Allah.
    Allah adalah Bapa yang mengasihi, setia, menginginkan kita akrab dengan-Nya. Allah telah berbicara sepanjang sejarah umat-Nya seperti yang dicatat dalam Alkitab. Sebagai penyataan dan inspirasi berotoritas, Alkitab menjadi media Allah berbicara menyatakan kasih-setia dan kehendak-Nya, dan menumbuhkan kita ke arah Kristus.
  2. Alasan dari pihak kita.
    Kehidupan Kristen adalah perjalanan iman. Iman Kristen ditumpukan kepada Allah dan firman-Nya bukan pada teladan orang, teori filsafat atau pengalaman rohani siapa pun. Kita perlu kebenaran Allah agar kita boleh bertumbuh benar ke arah Dia. Itu sebabnya kita perlu Alkitab dan doa dalam saat teduh yang teratur.
  3. Alasan KeTuhanan dan Teladan Yesus Kristus.
    Yesus Kristus adalah Putra Allah yang menjadi manusia sejati. Kehidupan-Nya bukan saja harus menjadi tumpuan iman kita, tetapi harus pula menjadi teladan bagi kita. Ada dua hal menonjol dalam sepanjang karir pelayanan Yesus. Pertama, Ia memberitakan dan menggenapi firman Allah. Dari isi ajaran-Nya kita dapat menyimpulkan bahwa Orang ini bergaul akrab dengan firman Allah. Kedua, Ia menumbuhkan kehidupan doa sepanjang pelayanan-Nya. Ia bahkan secara sengaja menyisihkan waktu dan menyingkirkan diri dari kesibukan pelayanan demi untuk berdoa. Jika dua hal itu menjadi ciri kehidupan Tuhan kita, mutlak perlu kita pun bergaul akrab dengan Allah melalui Alkitab dan doa!

Tujuan bersaat Teduh

  1. Tujuan jangka panjang.
    Pengenalan dan pertumbuhan adalah proyek jangka panjang. Tidak ada orang dapat tumbuh dewasa iman dalam sekejap. Tidak ada orang dapat menyelami kebenaran dalam tempo singkat. Kita perlu menyadari ini secara serius sebab kita kini hidup dalam zaman orang gemar dengan segala yang cepat, gampang, enak. Budaya dan mentalitas instant telah menyebabkan banyak kerugian dan kerusakan untuk hal-hal yang bersifat penting. Kedewasaan, kebijaksanaan, pengabdian, sebagai contoh, tidak dapat dibangun sekilas. Apalagi pengenalan akan Allah, pertumbuhan ke arah Kristus, pemahaman kebenaran ilahi!
  2. Efek samping jangka pendek.
    Tidak perlu disangkal bahwa bersaat teduh bisa membawa berkat indah seperti penyegaran rohani, mengalami kedekatan Allah, beroleh petunjuk langsung tentang masalah yang sedang memberatkan hidup, dlsb. Tetapi ketika berkat-berkat spontan tersebut tidak kita alami, apakah kita akan berhenti bersaat teduh? Ketika kita berjumpa bagian-bagian firman yang terkesan “kering,” apakah kita merasa Tuhan tidak menyapa kita dalam firman-Nya? Ada atau tidak ada efek samping langsung itu tidak boleh mempengaruhi kesungguhan kita bersaat teduh. Jangan juga kita lupa bahwa kebanyakan efek langsung akan kita tuai sebagai hasil dari menuai kebiasaan jangka panjang yang pada saat melakukannya justru kita mengalami kesan yang seolah bertolak belakang. Ada saat kita harus terus membaca Alkitab meski terkesan kering, berdoa meski seolah Allah tak peduli, sebab saat itu kita sedang menyusun batu-batu bangunan kehidupan rohani kita.

Dasar Alkitabiah-Teologis

Tidak Alkitabiah jika kita ingin temukan dasarnya dalam adanya ayat yang menggunakan istilah itu atau memberi anjuran melakukan itu dalam Alkitab. Juga tidak kita temukan adanya praktek umat Perjanjian Lama dan Baru bersaat teduh pribadi. Alasannya sederhana. Waktu itu belum dimungkinkan orang memiliki Alkitab untuk kepentingan individual sebab Alkitab belum diproduksi secara masal. Oleh karena itu baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, perjumpaan umat dengan firman Allah lebih banyak dilaksanakan dalam konteks kebersamaan. Contoh untuk itu dapat kita temukan misalnya di Nehemia 8 atau Kisah para rasul 2:42. Praktik ibadah bersama ini harus dilihat sebagai kebenaran yang akan mengalami progres lebih jauh dan kemudian terjabarkan meliputi juga ibadah pribadi.

Kebiasaan bersaat teduh boleh disimpulkan sebagai akibat logis dari prinsip gerakan Reformasi. Penekanan teologis penting gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura dan “Keimamatan setiap orang beriman.” Gerakan Reformasi sebenarnya bisa berhasil akibat penyebarluasan Alkitab dibarengi dengan pengajaran konsisten Alkitabiah melalui khotbah-khotbah ekspositori yang dilakukan oleh para reformator. Orang Kristen tidak tergantung pada pelayanan para rahib waktu itu sebab Kristus adalah Imam Besar yang memungkinkan tiap orang beriman beroleh akses langsung kepada Allah dan karena itu menikmati hak dan tanggungjawab “keimamatan”.

Jadi, saat teduh pribadi adalah konsekuensi logis dari ajaran dan teladan implisit dalam Alkitab serta bersumber pada kebenaran-kebenaran teologis yang ditemukan oleh para reformator. Saat teduh pribadi harus berjalan seiring dan serasi dengan ibadah umat bersama dalam konteks gerejawi.

Saat Teduh yang Buruk dan akibatnya

  1. Saat Teduh tidak teratur
    Jika saat teduh Anda tidak teratur, itu bisa menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang belum beres dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Entah Anda belum sungguh mengalami anugerah pembaruan-Nya (1Ptr. 1:2-3 – sebab tanda orang sudah mengecap anugerah Allah adalah adanya dahaga akan firman-Nya), atau Anda sedang dalam kondisi jauh atau tawar hubungan dengan Tuhan. Minta Roh Allah menyelidiki keadaan rohani Anda, menyadarkan tentang apa yang Anda perlukan, dan datanglah kepada-Nya untuk beroleh hubungan yang riil dan akrab dengan-Nya.
  2. Hanya membaca renungan tidak merenungkan Alkitab
    Ada dua macam renungan dalam buku-buku panduan saat teduh. Pertama, menekankan kesaksian dan relevansi. Kedua, menekankan penggalian teks Alkitab. Kebanyakan buku panduan saat teduh yang beredar dan diminati masuk golongan pertama. Membaca buku demikian terasa asyik, tetapi Anda sebenarnya tidak sedang merenungkan arti firman Allah melainkan disuapi oleh perspektif pengalaman penulis tentang teks tersebut. Akibatnya jelas, kebiasaan ini tidak membuat Anda masuk ke dalam firman Allah.
  3. Hanya membaca ayat-ayat tertentu
    Kebanyakan buku panduan saat teduh juga mengunakan pendekatan topikal bukan tekstual. Rencana bacaan disusun menuruti topik-topik tertentu. Untuk menunjang bahasan topik tersebut, dipilih ayat penunjang atau ayat yang berbicara tentang topik tersebut. Ada dua bahaya terkandung dalam pendekatan ini. Pertama, kutipan ayat bisa terlepas dari konteks. Akibatnya ayat itu sebenarnya bisa disalahartikan. Kedua, Allah telah berbicara membukakan isi hati-Nya melalui seluruh isi Alkitab. Jika kita terus menerus membaca dengan pendekatan ayat-ayat kutipan tidak berurut, sampai kapan kita bisa memiliki gambaran lengkap-utuh isi hati Allah untuk orang Kristen, Gereja, dunia?
  4. Hanya merenungkan Perjanjian Baru
    Banyak bagian Perjanjian Baru yang hanya dapat kita pahami dengan tepat jika kita memiliki pengertian tentang latarbelakangnya dalam Perjanjian Lama. Bila Anda hanya mementingkan Perjanjian Baru, Anda seolah menganggap Perjanjian Lama tidak lagi perlu. Berarti selain pemahaman Anda bisa tidak lengkap, Andapun sedang menyingkirkan sebagian firman Allah seolah tidak penting atau bukan firman Allah.
  5. Merenungkan tidak berurut
    Kebiasaan merenungkan ayat-ayat tertentu sesuai kebutuhan atau topik saja, paling banyak dilakukan oleh orang Kristen. Kebiasaan ini berbahaya sebab kebanyakan ayat-ayat Alkitab tersusun dalam rangkaian yang sinambung utuh. Misalnya, rangkaian kisah, rangkaian pemikiran, rangkaian hubungan sebab-akibat, rangkaian syarat-janji, rangkaian hubungan karya Allah dan tanggungjawab manusia. Hanya dengan membaca berurut dalam unit yang utuh kita baru bisa beroleh gambaran yang tepat dan benar tentang arti suatu ayat.
  6. Janji tanpa pemahaman tentang syaratnya
    Bayangkan bahayanya orang yang berpegang pada janji tentang kasih Allah yang mengampuni, tanpa mau beriman dan bertobat sungguh. Ada banyak lagi janji firman Tuhan lainnya yang bersyarat. Memegang janji tanpa mempedulikan syarat akan membuat orang berharap tanpa dasar.
  7. Kisah/Tokoh Alkitab sebagai pelajaran moral
    Bahaya “moralisme” terjadi bila ketika kita membaca kisah-kisah Alkitab, tindakan dan karakter orang-orang di dalamnya, langsung kita artikan pelajaran moralnya. Padahal, di balik kisah-kisah para tokoh Alkitab itu ada prinsip tentang sifat Allah, kebenaran-Nya, bagaimana Ia beranugerah dan berkuasa meujudkan rencana dan Kerajaan-Nya di dalam kisah-kisah kehidupan tesebut. Menomorsatukan pelajaran moral membuat kita kehilangan prinsip bahwa inisiatif dan anugerah Allah selalu yang utama dalam perjalanan hidup orang atau umat.
  8. Kata lepas dari rangkaian kalimat
    Studi arti kata sangat digemari orang, juga dalam saat teduh. Pendekatan ini tidak sepenuhnya tepat, sebab tak mungkin kata dapat kita pahami secara benar lepas dari kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya. Arti kata selalu ada dalam konteks teks dan sejarah.

Saat Teduh yang Tepat

  1. Pertolongan Roh Kudus
    Pengenalan akan Allah, memahami Alkitab, dapat berdoa dengan benar, sigap menjalani firman Allah, hanya dapat kita alami apabila Roh Allah memberikan pertolongan-Nya. Karena itu, semua saat teduh yang baik perlu diberdayakan oleh Roh Kudus sendiri. Mohonlah agar Anda diberikan kerinduan bersekutu dengan Allah, ketekunan dalam membaca Alkitab dan berdoa, kerendahan hati untuk memberlakukan firman-Nya.
  2. Keterbukaan untuk diurus oleh firman
    Ada persamaan namun ada juga perbedaan hakiki antara membaca Alkitab dan membaca buku-buku lain. Buku-buku lain boleh dibaca hanya untuk pengetahuan, boleh dibaca tanpa keterlibatan hidup, boleh juga dibaca hanya untuk iseng-iseng. Membaca Alkitab tidak boleh demikian. Orang Kristen membaca Alkitab dalam komitmen iman kepada Allah yang telah berfirman, dalam sikap belajar kepada Roh Kudus, dan dalam hasrat ingin menaati setiap kebenaran Alkitab karena dorongan kasih dan keinginan untuk bertumbuh serupa dengan Yesus Kristus.
  3. Menelusuri Alkitab sesuai keberadaan Alkitab sendiri
    Ada dua hal yang menjadi ciri Alkitab. Pertama, menyangkut urut-urutan isi Alkitab. Kedua, menyangkut jenis-jenis sastra dalam Alkitab. Jika kita ingin bersaat teduh dengan tepat, kita harus menerapkan prinsip seperti yang dianjurkan oleh para tokoh reformasi: Scripture by Scripture. Artinya, kita memahami isi Alkitab dengan memperhatikan dua ciri Alkitab itu. Maka saat teduh yang baik seyogianya memanfaatkan daftar bacaan dan metode penggalian yang menolong kita menelusuri Alkitab secara berkesinambungan dan sambil memperhatikan juenis-jenis sastra yang dipakai dalam Alkitab.
  4. Faktor kemanusiaan kita
    Kita bukan malaikat, belum memiliki kepekaan dan pemahaman rohani seperti yang nanti akan kita miliki dalam kemuliaan. Tuhan telah menciptakan kita dalam kapasitas-kapasitas badani-rohani. Pembaruan yang kita terima dari Kristus pun tidak menyangkali keberadaan kapasitas badani-rohani tesebut. Faktor rohani kita sudah kita bicarakan di butir 2 di atas. Faktor badani kita harus pula mendapatkan perhatian selayaknya. Saat teduh akan menjadi lebih baik apabila kita melakukannya secara teratur, menyediakan waktu yang di dalamnya kita bisa merasakan suasana nikmat bersama dengan Tuhan, menyiapkan tubuh agar dalam kondisi yang menunjang kesegaran mental, mencari tempat yang menunjang suasana ibadah.

Metode Baca-Gali Alkitab

Semua butir-butir metode BGA adalah penjabaran dari prinsip membaca-merenungkan Alkitab secara tepat atau prinsip menafsir Alkitab secara baik seperti yang telah diuraikan tadi. Langkah-langkah metode BGA adalah sbb.:

Unsur persiapan kita sebagai manusia: Sebelum bersaat teduh, siapkan diri Anda. Fokuskan diri Anda, sediakan waktu cukup, dan cari tempat khusus untuk bersekutu akrab dengan Allah. Ikutilah langkah-langkah berikut:

  1. Berdoalah.
    Gapailah Roh dengan segenap hati Anda dalam doa. Mohon pencerahan-Nya (Mzm. 119:18). Kata “gapailah” bukan semata menekankan aktifitas kita tetapi respons kita kepada inisiatif dan sentralitas karya Roh Allah dalam membimbing, mencerahkan, memberdayakan kita. Dalam doa kita menyadari bahwa Allah riil adanya dan mendengar doa, bisa menolong kita dalam saat teduh.
  2. Bacalah.
    Allah ingin Anda menapak maju dengan panduan Alkitab. Bacalah nas hati ini berulang kali sampai meresap (Mat. 5:6). Langkah ini menentukan apakah Anda akan sungguh masuk ke dalam kebenaran Allah dalam teks Alkitab itu atau tidak. Membaca berulangkali sebagai pendahuluan sebelum merenung secara mendalam merupakan prasyarat. Tujuan langkah ini adalah agar teks Alkitab itu Anda telusuri seluas secermat mungkin sampai Anda mulai merasakan irama, menangkap alur, melihat garis-garis terang di dalam teks tersebut.
  3. Renungkanlah.
    Renungkanlah nas tadi dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan berikut (Mzm. 1:2). Sesudah Anda masuk ke dalam teks Alkitab itu, tibalah saatnya Anda merenungkan secara rinci dan dalam. Tanyakan beberapa hal berikut:
    • Apa saja yang kubaca. Peristiwa apa? Hal apa? Siapa? Adakah kaitan dengan nas-nas sebelumnya? Maksud pertanyaan ini adalah Anda perlu memperlakukan teks Alkitab secara riil dan mencari ciri, hal, unsur, semua hal yang ada di sekitar (konteks), di dalam, dan yang membentuk teks tersebut.
    • Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas tadi: janji, peringatan, teladan, dst? apabila Anda cermat di langkah sebelum ini dan terus menerus bertanya-tanya kepada Roh Kudus, maka Ia akan memperlihatkan arti teks tersebut dan membantu Anda melihat kaitan arti itu dengan Anda kini. Mengkategorikan pesan tersebut ke: janji, pelajaran, perintah, peringatan, teladan, bisa membantu Anda menemukan pesan Allah dalam teks Alkitab.
    • Apa responsku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan firman tersebut? Apa responsku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku? Ini adalah puncak dari tujuan kita bersaat teduh. Kita tidak ingin berhenti hanya pada mengetahui tetapi rindu maju lebih jauh lagi sampai ke mengalami pembaharuan hidup yang berkelanjutan akibat firman kita pahami, terima, simpan, dan lakukan.
  4. Bandingkanlah.
    Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan Renungan HarianIni bisa membuat Anda diperkaya, dipertajam, atau berdialog lebih lanjut dengan nas maupun dengan orang lain (Kis. 17:11). Renungan Harian adalah alat bantu atau teman saat teduh Anda. Inti saat teduh adalah merenungkan teks Alkitab, bukan penjelasannya. Tetapi itu tidak berarti kita harus mengabaikan bahwa Roh Allah berbicara juga kepada para hamba-Nya termasuk para penulis Santapan Harian yang telah menggumuli teks itu secara serius. Maka jadikanlah Santapan Harian sahabat saat teduh Anda.
  5. Berdoalah agar Allah memberdayakan Anda melakukan dan membagikan pesan firman tersebut (Mat. 7:24).